teruskan perjalanan...semangat...!


Capek. Hampir tak terurus. Keliling yang kadang tak tentu arah, tapi juga terkadang mengandung hikmah.

Iya, kira-kira selama dua mingguan jarang di rumah. Selama itu juga, blog ini tak terurus. Ada saja aktifitas yang harus dilakukan. Namun ada juga aktifitas tak penting, mendadak begitu saja berubah menjadi hal yang penting, walaupun sepertinya dipaksakan.

Kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan awal, sudah hampir melewati separuh “perjalanan”. Hemm…separuh “perjalanan” ya??? Belum begitu menyakinkan, apakah bisa di sebut separuh “perjalanan”, karena terlalu banyak hal yang selalu merecoki dari awal hingga sekarang.


Ah…tak begitu penting dengan sebutan tengah “perjalanan” atau awal “perjalanan”. Hanya saja saya berharap, “perjalanan” ini akan terus berlanjut tanpa batas. Terus, Istiqomah. Banyak orang bijak berkata, bahwa sesuatu yang dilakukan dengan terus menerus, istiqomah, hasilnya tak akan mengecewakan. Tuhan itu adil, kata mereka.

Sekarang, saya sudah bisa kembali menemui teman-teman maya. Sambil melanjutkan “perjalanan” tadi, sebisa mungkin saya juga melanjutkan perjalanan maya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Saya memimpikan bukan hanya dua atau tiga pulau yang terlampaui, tapi dua puluh tiga (23) pulau yang harus saya rengkuh.
Semoga.

[+/-] Selengkapnya...

Meng-internasionalkan bahasa Indonesia


Kata orang pinter, zaman sekarang kalau tidak bisa bahasa Inggris, bisa ketinggalan informasi.Lain lagi kata anak-anak muda, orang tak bisa bahasa Inggris, bukan orang gaul, katrok.

Iya, bahasa Inggris dari dulu (?) sampai sekarang adalah bahasa internasional. Orang pergi ke negara mana pun, kalau menguasai bahasa Inggris, tak akan kesulitan. Sebab, hampir setiap negara mewajibkan salah satu kurikulum pendidikan formalnya memasukkan bahasa Inggris menjadi pelajaran wajib. Bahkan, di Indonesia, bahasa Inggris merupakan salah satu pelajaran yang menentukan lolos tidaknya siswa dalam Ujian Nasional.

Tak menjadi masalah, jikalau belajar bahasa Inggris niatnya untuk meng-internasional-kan diri. Sepakat dengan kata orang pinter, bahwa jika tak bisa bahasa Inggris jangan berharap untuk bisa melaju ke jenjang internasional, minimal akan menemui kesulitan. Singkatnya, orang zaman sekarang dituntut untuk bisa berbahasa Inggris. Wajib hukumnya.

Namun yang memprihatinkan adalah ketika bahasa Inggris menjadi ajang gengsi-gengsian. Mereka merasa lebih wahh ketika ngobrol dengan bahasa Inggris meski hanya sepotong-potong, walaupun nggak jelas apa konteksnya. Penyebabnya adalah terletak pada kemajuan teknologi, khususnya pertelivisian dan media massa yang seringkali menggunakan dan mencampur adukkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia. Lalu, bagaimana dengan nasib bahasa Indonesia untuk menjadi salah satu bahasa internasional? Apakah bisa?.

Di Mesir, saat ini saya tinggal, hampir masyarakatnya jarang menggunakan bahasa Inggris ketika berkomunikasi dengan orang asing. Kalaupun ada itu pun hanya anak-anak kecil yang iseng menanyakan nama atau kabar. Teringat, ketika saya berlibur ke Bali beberapa tahun silam, melihat begitu banyaknya orang asing, naluri untuk berbicara bahasa asing (Inggris) keluar, walaupun saya belum begitu lancar bahasa Inggris. Tapi dengan sikap yang gagah, saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa inilah saya, orang Indonesia bisa bahasa anda.

Tapi saya terkejut ketika berada di Mesir, kenapa masyarakatnya tidak punya naluri untuk berbicara bahasa Inggris kepada saya? Walaupun sekedar menyapa saja, mereka tetap bangga menggunakan bahasa asli mereka, ahlan, zaiyyak, akhbarok eih dll. Seolah-olah mereka ingin mengatakan kepada saya bahwa "anda harus belajar bahasa saya (Mesir) bukan saya (Mesir) yang belajar bahasa anda".

Bagi saya, apa yang masyarakat Mesir lakukan, merupakan langkah awal untuk menjadikan bahasa mereka bahasa internasional. Mereka bangga dengan bahasanya sendiri. Mereka senang bahasa mereka bisa menyebar di berbagai negara. Bahkan teman Mesir pernah berkata, bahwa hampir seluruh masyarakat di jazirah arab mengerti bahasa Mesir, walaupun tak begitu menguasai seluruhnya.

Ada beberapa hal yang menjadikan sebuah bahasa menjadi bahasa internasional. Dominasi kekuasaan politik dan ekonomi, penyebaran geografis, jumlah pemakai, dll.

Bahasa Inggris diakui menjadi bahasa internasional, karena negara tersebut pernah menguasai hampir dua pertiga wilayah di bumi ini. Setiap negara yang pernah "dicicipi kekuasaan" Inggris, kebanyakan memasukkan bahasa Inggris menjadi bahasa resmi mereka. Belum lagi jumlah populasi negara tersebut. Maka tak heran, bahasa Inggris menjadi bahasa internasional.

Salah satu bahasa yang sekarang populer, yakni bahasa China. Selain jumlah pemakai bahasa tersebut banyak, karena banyaknya jumlah penduduk China, faktor lain yang menjadikan bahasa China populer adalah dominasi kekuasaan mereka pada politik dan ekonomi. Hampir sendi ekonomi dunia, China ikut andil di dalamnya.

Lalu nasib bahasa Indonesia bagaimana?
Indonesia bukan negara penjajah, jadi tak ada negara yang memasukkan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi mereka.

Jumlah penduduk Indonesia lebih dari 200 juta jiwa. Ini masuk salah satu unsur bahasa internasional, yakni jumlah pemakai. Tapi yang "mengecewakan", tidak semua masyarakat Indonesia mengerti akan bahasa resmi negaranya. Apalagi mereka yang tinggal di pelosok-pelosok, atau mereka yang berdiam diri di pedalaman, belum tentu mereka bisa bahasa Indonesia. Saya sendiri tertawa mendengar ini

Dari beberapa tiga hal yang saya sebutkan tadi (dominasi kekuasaan politik, penyebaran geografis, jumlah pemakai), Indonesia hampir tidak termasuk "nominasi". Pupus? Tidak.

Sepatutnya kita mencontoh apa yang telah dilakukan oleh rakyat Mesir. Mereka bangga dengan bahasanya sendiri. Kepada orang asing, mereka tetap bangga memakai bahasa pribumi. Tak ada kata malu walaupun tidak diimbuhi dengan bahasa Inggris. Nasionalisme mereka begitu tinggi, tak heran mengapa Mesir menjadi negara yang di segani di Timur Tengah.

Untuk meng-internasional-kan bahasa Indonesia, tak harus mengikuti jejak Inggris yang menjajah negara lain. Kesadaran akan kebanggaan dengan negara sendiri, kebanggaan dengan bahasa Indonesia, merupakan langkah awal menuju tingkat lebih tinggi. Bagaimana mau beranjak, kita sendiri tidak bangga dengan keberadaan kita, tapi jangan membuang begitu saja bahasa-bahasa asing lain, hal tersebut penting bagi kita agar tidak ketinggalan informasi, bukan untuk gaul-gaulan.

Awalilah dari sekarang. Bangga dengan Indonesia, bangga dengan bahasa Indonesia.

[+/-] Selengkapnya...

Dzikir bergeleng


Ketika saya masih di Indonesia, seringkali (tepatnya pernah) saya mengikuti istighosah, atau dzikiran. Saya perkirakan ada sekitar ratusan orang yang mengikuti ritual tersebut. Dari kalangan anak kecil, muda, sampai kakek nenek ada. Mereka khusyuk dan "patuh" mengikuti sang "pemimpin" yang berada di barisan depan, barisan sendiri. Apa yang "beliau" ucapkan, ditirukan oleh orang-orang di belakangnya. Apa yang "beliau" gerakan, mereka juga ikut gerak. Saya mikir, seandainya rakyat Indonesia seperti mereka-mereka, baik apa jelek ya? Hmmm....Silahkan jawab sendiri.

Ada keanehan dan kejanggalan sendiri bagi saya dalam ritual-ritual itu. Kenapa mereka selalu menggerakkan kepala sewaktu melafalkan atau mengucapkan dzikir tersebut? Kalimat tahlil "لااله الا الله" misalnya, saya perhatikan, selalu saja ada gerakan kepala, geleng-geleng lah enaknya, nyomot dari lagunya Project pop. Apa itu merupakan gerakan wajib? atau hanya sebatas seni saja?.

Bukannya saya ngeledek mereka, tapi sewaktu melihat mereka melakukan hal seperti itu, lucu. Iya, lelucon yang tak membuat saya tertawa. Tak sopan kalau saya menertawai tingkah mereka. Wallahi inta mafish adab ya 'am, kira-kira begitu. Lha orang geleng-geleng berdzikir, koq malah diketawai, malah saya yang dianggap gila nanti sama mereka.

Lambat laun saya menyadari, bahwa apa yang saya bual dan yang saya anggap lelucon itu jauh lebih bermanfaat dari pada apa yang saya lakukan selama ini. Sungguh bodoh diri ini. Kenapa tidak dari dulu saja saya tahu akan hal ini.

Beberapa hari yang lalu, saya browsing youtube, nonton salah satu acara di stasiun TV, Trans 7. BCG, Belum Cukup Gede, itu acaranya yang dipandu oleh Ruben dan Adul. Kebetulan waktu itu temanya adalah "Di goyang abang senang". Sepintas memang temanya lumayan hot, tapi memang acara ini untuk kalangan dewasa, 17 tahun ke atas kalau jaman dulu bilangnya. Yang menjadi topik pembicaraan waktu itu adalah goyangan dangdut, bintang tamunya juga dari pedangdut.

Nah, pada segmen berapa saya lupa, sang bintang tamu disuruh untuk menyanyi, tapi gak pakai joget. Menyanyi dangdut tanpa joget. Hmmmmmm...Saya membayangkannya.

Jangankan bintang tamu, saya saja yang mendengarnya merasa ada yang kurang, ada salah satu "ritual" yang hilang. Yup, joget. Ternyata bagi saya, nyanyi dangdut gak pakai joget, musy kuwais awy. Gak enak blas rek....

Pasti sering kita mendengarkan musik-musik, entah itu pop, dangdut, jazz, rock atau yang lainnya. Coba perhatikan kaki atau salah satu anggota badan kita ketika lagunya diputar, pasti ada gerakan refleksi menyesuaikan lagu. Itu sengaja atau tidak ya? Lazim inta 'aarif igaabah di, el igabah minnak.

Kembali tentang geleng-gelengnya orang berdzikir.
Orang nyanyi dangdut saja harus pakai goyang. Orang dengerin musik, salah satu anggota badan ikut bergoyang. Lha ini padahal hanya lagu saja, ritual keduniawiaan. Apalagi ritual yang berhubungan dengan Tuhan.

Mereka, para ahli dzikir, pasti juga merasakan kenikmatan berdzikirnya. Merasakan keindahan ketika mengingat Allah. Menikmati lezatnya iman, masya allah.

انما المؤمنون اللذين اذا ذكر الله وجلت قلوبهم واذا تليت عليهم ءايته زادتهم ايمانا وعلي ربهم يتوكلون
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (surah Al Anfaal: 2).

Ah, mereka sudah merasakan bagaimana kenikmatan menyebut nama Allah. Sedangkan saya masih begitu terlena dengan nikmatnya musik-musik dunia.
انما الحياة الدنيا لعب ولهو
Sudah jelas sekali kan? dunia ini hanyalah sebuah permainan. Namanya juga permainan, pasti ada peluit untuk mengakhiri permainannya. Ada garis finish. Artinya, dunia ini semu.

Baru menyadari akan indahnya berdzikir
الا بذكر الله تطمئن القلوب
Dengan berdzikir, mengingat Allah, hati merasa tenang.
Semoga saya bisa mengikuti jejak-jejak mereka yang sudah merasakan kenikmatan berdzikir, mengingat Yang punya diri ini. Termasuk anda juga.

[+/-] Selengkapnya...